Tampilkan postingan dengan label potret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label potret. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

Segera Tayang Di Bioskob " TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK "




'Sinopsis film Tenggelamnya kapal Van Der Wijck'

Salah satu cerita novel roman mega best seller karya Prof. Dr. Buya Hamka yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” akan segera diangkat ke layar lebar. Setelah kemarin salah satu film yang di angkat ke layar lebar berjudul Loe Gue End (Nadine Alexandra, dan Dimas Beck) kali ini film yang masih dalam tahap awal pra produksi ini tengah digarap oleh Soraya Intercine Films. Hingga berita ini diturunkan, masih belum ada informasi detil mengenai siapa-siapa saja yang akan terlibat, namun website Soraya sudah menampilkan teaser poster untuk film ini di laman mereka. 

Diterbitkan tahun 1939, roman ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan persoalan kekayaan yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih. Berikut ini adalah sinopsis novelnya:

“Sejak berumur 9 bulan, Zainuddin telah ditinggalkan Daeng Habibah ibunya, menyusul kemudian ayahnya yang bernama Pendekar Sutan. Zainuddin tinggal bersama bujangnya, Mak Base, Kira-kira 30 tahun yang lalu, ayahnya punya perkara dengan Datuk Mantari Labih mamaknya, soal warisan. Dalam suatu pertengkaran Datuk Mantari terbunuh. Pendekar Sutan kemudian dibuang ke Cilacap selama 15 tahun. Setelah selesai masa hukumannya, ia dikirim ke Bugis untuk menumpas pemberontakan yang melawan Belanda. Di sanalah Pendekar Sutan bertemu dengan Daeng Habibah. Untuk mencari keluarga ayahnya, Zainuddin pergi ke desa Batipuh di Padang. Di Padang ia tinggal di rumah saudara ayahnya, Made Jamilah. Sebagai seorang pemuda yang datang dari Makasar, ia merasa asing di Padang.

Apalagi tanggapan saudara-saudaranya demikian. Demikian pula ketika ia dapat berkenalan dengan Hajati karena meminjamkan payungnya pada gadis itu. Hubungan antara Zainuddin dan Hajati makin hari tersiar ke seluruh dusun dan Zainuddin tetap dianggap orang asing bagi keluarga Hajati maupun orang-orang di Batipuh. Untuk menjaga nama baik kedua orang muda dan keluarga mereka masing-masing, Zainuddin disuruh meninggalkan Batipuh oleh mamak Hajati. Dengan berat hati Zainuddin meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang. Di tengah jalan Hajati menemuinya dan mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Zainuddin.

Karena merasa cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya setelah Mak Base meninggal, Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hajati. Temyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Setelah diminta untuk memilih, Hajati memutuskan memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin kemudian sakit selama dua bulan karena Hajati menolaknya. Atas bantuan dan nasehat Muluk, anak induk semangnya, Zainuddin dapat merubah pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta.

Cerita ini berkisar tentang semangat juang Zainuddin, bagaimana merana dan melaratnya hidup Zainuddin setelah cintanya ditolak oleh keluarga Hayati. Kemudian beliau bangun semula dari segala kedukaan, membuka lembaran baru dalam hidupnya menjadi seorang penulis yang ternama dan berjaya. Ia menceritakan tentang kesetiaan, cinta dan kasihnya Zainuddin terhadap Hayati. Meski Hayati sudah menikah tetapi sebaik mendapat tahu tentang kesusahan yang dihadapi Hayati, lantaran suaminya yang suka berpoya-poya serta tidak bertanggung-jawab, Zainuddin terus membantu tanpa ada dendam dan benci. Sesungguhnya cinta yang suci itu akan terus mekar di dalam hati hingga ke hujung nyawa begitulah jua cinta antara Zainuddin dan Hayati”.Film ini merupakan film "TITANIC"nya Indonesia



'Syuting Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” Dimulai'




TRIBUNNEWS.COM - Raut muka anak-anak usia remaja terlihat ceria, cewek cowok yang sebagian sudah memakai dandanan ala nonik Belanda zaman dulu bersiap mengikuti syuting perdana filmlayar lebar "Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk".
Siang yang cukup gerah tidak membuat sekitar 235 pemain figuran dan peran pembantu film ini turun semangat. Siang itu mereka berkumpul di Graha Parfi Jalan Tidar, untuk bersama-sama menuju lokasi syuting perdana di Kaliandra Sejati Eco Resort Dusun Gamoh, Desa Dayurejo, Prigen, Pasuruan dengan menumpang dua bus pariwisata.


Mereka sudah menyiapkan segalanya sesuatu seperti kostum dan make up bagi cewek dari rumah masing-masing untuk dibawa ke lokasi syuting. "Ini make up pada setting tahun itu cukup tebal, pada lipstik dan bedak wajah," kata Fanti, seorang pemeran dalam film ini.
Karyawati sebuah perusahaan konsultan pajak ini baru kali ini ikut dalam peran sebuah film layar lebar. Karena itu ia ingin sekali tampil total. "Ini perdana dan existing banget, harus tampil menarik dan total," kata cewek berusia 24 tahun ini.
Dengan memakai longdress warna biru tua, make up tebal dan rambut dibiarkan terurai, cukup membuat dandanan Fanti seperti dandanan ala tahun 1930-an. Pada film yang diangkat dari novel karya Buya Hamka ini Fanti mendapat kesempatan tampil dengan peran sebagai bangsawan Belanda.
Bagi alumnus sastra Inggris Unair ini bisa ikut main dalam filmmerupakan kesempatan yang harus dipergunakan sebaik baiknya. Bahkan Fanti sama sekali tidak berpikir masalah honor. "Harus tampil baik dan total, urusan honor saat ini belum terpikir," kata Fanti yang sudah terbiasa main drama dalam teater di kampusnya.
Begitupun yang dirasakan Rere, 27, bintang iklan dan host sebuah TV Swasta ini ikut main dalam film semi kolosal yang di sutradarai sekaligus produser Sunil Soraya ini
Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan, hanya saja Rere berulang ulang mendalami materi yang akan diperankan. "Intinya adalah keluarga bangsawan Belanda," ujarnya.
Bukan hanya pemain pemula yang ikut pada shooting perdana filmini tapi juga beberapa talen yang pernah ikut dalam film sebelumnya yang melibatkan Parfi Jatim, seperti Femmy Prety, Dewi Agustin, Pramudia juga ikut pada film ini. "Saya pernah ikut main dalam filmHantu Iwak Peyek," kata Femmy.
Selain mereka pemain pemula, film ini juga dibintangi oleh artis kawakan antara lain Jajang C Noor, Ninik L Karim, Herjunot Ali dan Pevita Pearce. Wira Lina Ketua DPD Parfi Jatim menambahkan, seluruh talen baik peran figuran maupun pembantu pada film ini adalah dari Wira Sinema.
Sebelumnya, mereka lebih dulu diseleksi melalui casting pada Bulan April lalu. "Saat itu ada sekitar 480 an orang yang mengikuti casting, dan terserap 235 orang untuk mengikuti dan main di film ini," ujarnya.
Pada syuting di Jawa Timur ini scene yang akan dicari adalah suasana pesta para bangsawan. Dengan latar belakang rumah rumah dengan arsitektur kuno. "Film ini mengambil seting pada zaman Belanda sekitar tahun 1930-an," kata Wira.


Film layar lebar "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" membutuhkan sedikitnya 600 pemain. Sebanyak 100 orang di antaranya adalah berperawakan bule.
Menurutnya, pemain tersebut sebagian akan menjadi penduduk lokal dan orang Belanda. "Makanya kami juga membutuhkan tampang-tampang orang bule," pungkasnya.



'SETTING FILM ‘TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK’ DI KAPAL MEGAH'


Jakarta, C&R Digital - Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck siap diangkat ke layar lebar. Tim produksi film yang diangkat dari novel karya Buya Hamka ini membuat setting khusus sebuah kapal besar yang akan dijadikan lokasi pembuatan film. Ini dilakukan untuk mewujudkan visualisasi novel yang diterbitkan pada 1939 ini.
Ini akan dibuat sangat etnic dan kita buat kapal, benar-benar kita buat. Mungkin akan jadi produksi yang bisa dibilang besar,” ucap Herjunot Ali yang berperan sebagai Zainudin saat ditemui C&R Digital, di Jakarta, Selasa (19/02).
Bahkan proses pembuatan film yang disutradarai oleg Sunil Soraya ini sempat beberapa kali tertunda karena persialan yang belum usai. “Jadi karena persiapan yang sangat luar biasa itu buat ini kepending lagi kependign lagi dan alhamdulillah sekarang semuanya sudah di prepare dengan baik banget. Jadi persiapan lima tahun itu mudah-mudahan akan tereksekusi dengan baik,” harapnya.
Baginya, persiapan yang sangat berbelit-belit ini dilakukan untuk menghormati karya penulis Buya Hamka yang sangat berarti dalam sejarah kesusastraan Indonesia. “Karena kita bawa nama besar Buya Hamka. Dia yang nulis Dibawah Lindungan Ka’bah terus kebetulan saya juga yang main disana,” tuturnya. “Ini juga salah satu representasi kesusastraan Indonesia. Novelnya Buya Hamka, diterbitin tahun 1939 itu gue pengen share disini adalah novel yang belum pernah diangkat."
Film ini akan mulai syuting pada Mei dan akan dirilis pada Desember tahun ini. Film ini diproduksi oleh Soraya Intercine Film.



Sabtu, 13 April 2013

Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !!


Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya.

Bagikan agar semua orang tau betapa besarnya cinta seorang "AYAH".

Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat.
SilaHkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun.


Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=135990899918953&set=a.105144339670276.6751.100456956805681&type=1&ref=nf

Senin, 07 Januari 2013

Jugun Ianfu: AKU BUKAN PELACUR ! Potret Kelam Wanita Indonesia Atas Kekejaman Tentara Jepang (1)

Perang Asia-Pasifik atau Perang Dunia II menyisakan berbagai kisah pilu bagi berbagai Negara, tak terkecuali Indonesia. Indonesia adalah korban perang yang tengah berkecamuk diantara Negara-negara besar di wilayah tersebut. Indonesia menjadi bangsa terjajah pada masa itu, terlebih lagi ketika bangsa Jepang datang dan masuk ke wilayah Indonesia. Awalanya mereka memberi harapan kepada Indonesia untuk bisa merdeka dan terlepasa dari penjajahan, namun hal tersebut hanyalah bualan semata, mereka justru melakukan penjajahan terhadap rakyat Indonesia dan bahkan gaya penjajahan mereka tak jauh beda dengan Negara sebelumnya, yaitu Belanda.
Tahun 1943-1945, Perang Dunia II. Setelah Jerman, Jepang menduduki tempat kedua sebagai kekuatan militer. Negara-negara demokratis dalam waktu ini dinamai oleh pers sebagai Negara-negara sekutu. Negara-negara fasis-militer Jerman, Italia dan Jepang oleh pers dinamai dengan sebutan As karena mereka membentuk as Berlin-Roma-Tokyo. Pada tahun 1943, serangan besar-besaran pihak sekutu di Asia Tenggara membuat posisi balatentara Jepang dari agresif menjadi defensif. Sikapnya terhadap nasionalisme di Indonesia juga telah berubah, sehingga kaum nasionalis di Jawa dan Sumatra mendapatkan keleluasaan berpropaganda.
Hubungan laut antara balatentara Jepang di Asia Tenggara dengan Jepang manjadi sulit. Orang Indonesia, melalui PETA mendapatkan latihan kemiliteran untuk menjadi perwira guna mempertahankan tanah airnya dari serangan sekutu. Balatentara Jepang sendiri ditarik ke garis depan. Sulitnya hubungan udara dan laut mengakibatkan tentara Jepang tak lagi bisa mendapatkan wanita penghibur dari Cina, Jepang dan Korea. Sebagai gantinya, para gaidis Indonesia dikirim ke garis depan sebagai wanita penghibur.
Wanita penghibur atau yang dalam isilah Jepang disebut Jugun Ianfu, merupakan bentuk penjajahan yang secara nyata dialami oleh kaum perempuan di Indonesia. Sebelumnya praktek Jugun Ianfu ada di Indonesia, ternyata praktek tersebut juga berlaku diberbagai Negara terutama Negara-negara yang menjadi koloni Jepang. Menurut riset oleh Dr. Hirofumi Hayashi, seorang profesor di Universitas Kanto Gakuin, jugun ianfu termasuk orang Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Indo Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik. Jumlah perkiraan dari Jugun Ianfu ini pada saat perang, berkisar antara 20.000 dan 30.000. Pengakuan dari beberapa Jugun Ianfu yang masih hidup jumlah ini sepertinya berada di batas atas dari angka di atas. Kebanyakan rumah bordilnya berada di pangkalan militer Jepang, namun dijalankan oleh penduduk setempat, bukan militer Jepang.
Menurut riset Dr. Ikuhika Hata, seorang profesor di Universitas Nihon. Orang Jepang yang menjadi Jugun Ianfu ini sekitar 40%, Korea 20%, Tionghoa 10%. Dan 30% sisanya dari kelompok lain.
Di Indonesia sendiri, para perempuan direkrut secara paksa, bahkan ada pula yang diiming-imingi dengan janji-janji hidup yang enak, pendidikan yang layak, dijadikan pemain sandiwara dan sebagainya. Bahkan para tentara itu tak segan-segan menculik dan memperkosa gadis-gadis tersebut di depan keluarganya. Sungguh ironis apa yang terjadi di Indonesia terutama bagi kaum wanita.
Praktek Jugun Ianfu yang terjadi di Indonesia ternyata adalah suatu kesengajaan atau bagian dalam rencana menjaga keefektifan dan kinerja para tentara Jepang dalam bertugas. Dimana kepuasan seks tentara Akan mempengaruhi kinerja para tentara Jepang dan apabila hal tersebut tidak dituruti maka para tentara Jepang akan mengalami kemunduran. Pengerahan Jugun Ianfu yang diartikan sebagai “budak seks” dilakukan secara gelap, di bawah tangan. System rekrutmen yang tertutup ini tidak menggunakan pengumuman resmi. Pemerintah militer Jepang menggunakan bantuan pejabat daerah seperti lurah, camat dan melalui tonarigumi. Mereka menawarkan, bahkan memaksa agar perempuan-perempuan belia ini bersedia ikut dalam program pengerahan tenaga kerja, di samping dengan ancaman juga dengan mendekati keluarga yang diincar. Seperti kesaksian mantan Jugun Ianfu asal Jogjakarta, yang orang tuanya dipanggil pak lurah. Dikatakannya anaknya bernama Suharti akan dididik, disekolahkan di Balikpapan dan setelah lulus aka dipekerjakan di kantor. Namun, anak yang berumur 15 tahun ini dijadikan Jugun Ianfu selama enam bulan di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Kaum perempuan yang menjadi Jugun Ianfu umumnya berpendidikan rendah, bahkan ada yang tidak berpendidikan sama sekali, dan buta huruf. Selain kebodohan yang dimilikinya, mereka juga berada kedalam jeratan ekonomi yang membelit. Kebodohan dan kemiskinan membuat mereka percaya begitu saja pada tawaran kerja yang cukup menjanjikan yang tidak membutuhkan kehalian khusus seperti pambantu rumah tangga, pelayan restoran atau pekerjaan apa saja yang hanya membutuhkan tenaga.
Rekrutmen Jugun Ianfu dapat juga dilakuakan melalui jalur hiburan dimana para seniman terlibat di dalamnya, seperti yang dialami oleh mantan Jugun Ianfu dari Jogjakarta, Mardiyem. Seorang pemain sandiwara keliling dari grup “pantja soerja” telah menjanjikannya menjadi penyanyi di Kalimantan, sesuai dengan cita-citanya yang ingin membebaskan diri dari lingkungannya sebagai abdi dalem (mengabdi pada keluarga bangsawan Jawa) di daerah Suryotarunan. Selain itu, dokter dan para pejabat baik rendah maupn tinggi, baik yang berpartisipasi langsung atau tidak, dalam usaha pengumpulan dan pencarian tenaga kerja perempuan yang akan dijadikan Jugun Ianfu. Mereka dianggap memiliki akses tersendiri pada kaum perempuan, baik di desa maupun di kota.
Kebanyakan kaum Jugun Ianfu dapat digolongkan sebagai perempuan yang berasal dari keluarga baik-baik. Di antara mereka ada yang masih gadis, bahkan ada yang di bawah umur dan ada yang sudah bersuami dan mempunyai anak. Akan tetapi, ancaman pihak militer Jepang yang kejam yang memiliki kekuatan senjata, membuat mereka takut menolak atau melarikan diri pada saat mereka sampai pada suatu tempat yang penuh dengan penderitaan fisik dan batin. Penguasa militer Jepang mendirikan tempat-tempat yang dihuni Jugun Ianfu di setiap wilayah komando militer dengan tujuan untuk mencegah terjadinya pemerkosaan oleh tentara Jepang terhadap penduduk lokal, menjaga moral tentara Jepang serta mencegah penyakit kelamin yang akan melemahkan kekuatan militernya.
Para perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu dimasukkan ke dalam rumah bordil a’la Jepang yang disebut Ian-jo, antara lain terdapat dibekas asrama peninggalan Belanda, markas militer Jepang dan rumah-rumah penduduk yang sengaja dikosongkan. Tempat-tempat itu biasanya dijaga ketat oleh tentara Jepang. Setiap perempuan di Ian-jo biasanya mendapatkan kamar dengan nomor kamar, bahkan namanya diganti dengan nama Jepang seperti yang dituliskan di pintu kamar. Ian-jo pertama di dunia dibangun di Shanghai, Cina tahun 1932. Pembangunan Ian-jo di Cina dijadikan model untuk pembangunan Ianjo-Ianjo di seluruh kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia sejak pendudukan Jepang tahun 1942-1945 telah dibangun Ian-jo diberbagai wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Jawa, Nusa Tenggara, Sumatra, Papua.
Sebelum menjalani tugas sebagai budak seks ( Jugun Ianfu), perempuan-perempuan di Ian-jo menjalani pemeriksaan kesehatan yang merendahklan martabat. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika para petugas medis menyuruh mereka membuka pakaian sampai akhirnya mereka telanjang bulat, lalu menggerayangi tubuh mereka. Bahkan di antara mereka tidak berani bertanya apalagi menolak, ketika vagina mereka diperiksa dengan memasukkan alat terbuat dari besi panjang, dan jika alat ini ditekan, bagian ujungnya akan mengembang dan dapat membuka vagina menjadi lebih lebar. Melalui alat yang dinamakan cocor bebek, dapat diketahui apakah kemaluan calon Jugun Ianfu sudah terserang penyakit atau masih sehat.
Di Ian-jo mereka mendapatkan pemerkosaan, suatu hubungan seks dengan secara paksa, seperti yang dialami Mardiyem. Usianya baru 13 tahun dan belum mengalami haid saat ia diperkosa untuk pertama kalinya oleh seorang Jepang berambut berewok. Ia adalah pembantu dokter yang memeriksa kesehatannya pertama di Ian-jo Telawang. Siksaan berupa tamparan, pukulan, dan tendangan dilakukan oleh tentara Jepang, apalagi mereka dalam keadaan mabuk. Jika kurang puas dengan pelayanan Jugun Ianfu, mereka melakukan cara-cara tidak manusiawi yang biasa dilakukan oleh binatang dan tentunya tidak dapat diikuti oleh Jugun Ianfu baik karena faktor tenaga maupun etik.
Para Jugun Ianfu hanya pasrah dalam menjalani penderitaan hidup karena mereka tidak punya pilihan lain. Kesempatan melarikan diri tidaklah mungkin karena jarak perjalanan pulang jauh, apalagi mereka buta tentang pengetahuan peta, dan mereka pun tidak mempunyai uang untuk bepergian meski di Ian-jo berlaku sistem pembayaran.
Setiap tamu baik kalangan militer maupun sipil datang ke Ian-jo harus antre untuk mendapatkan karcis dan kondom. Namun, sebagian besar pengunjung tidak mau menggunakan kondom karena menurut mereka dapat menggangu kenikmatan hubungan seksual mereka. Adapun besarnya pembayaran untuk tiap waktu berbeda. Jika kalangan militer berkunjung ke Ian-jo pada siang hari dikenakan biaya 2,5 rupiah, sedangkan untuk kalangan sipil 3,5 rupiah, dimulai pada sore hari pukul 17.00-24.00, dan tamu menggunakan jasa Jugun Ianfu sampai pagi membayar 12,5 rupiah. Meskipun berlaku sistem pembayaran, Jugun Ianfu tidak pernah menerima uang kecuali karcis dari tamu yang datang. Pengelola Ian-jo, Cikada, mengatakan agar karcis dikumpulkan, kelak dapat ditukar dengan uang jika mereka berhenti bekerja sebagai Jugun Ianfu.
Sebagian besar perempuan-perempuan yang berasal dari pulau Jawa yang dijadikan Jugun Ianfu seperti Mardiyem, Sumirah, Emah Kastimah, Sri Sukanti, hanyalah sebagian kecil Jugun Ianfu Indonesia yang bisa diidentifikasi. Masih banyak Jugun Ianfu Indonesia yang hidup maupun sudah meninggal dunia yang belum terlacak keberadaannya. Mereka diperkosa dan disiksa secara kejam. Dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang sebanyak 10 hingga 20 orang siang dan malam serta dibiarkan kelaparan. Kemudian di aborsi secara paksa apabila hamil. Banyak perempuan mati dalam Ian-jo karena sakit, bunuh diri atau disiksa sampai mati.
Setelah perang Asia Pasifik usai Jugun Ianfu yang masih hidup didera perasaan malu untuk pulang ke kampung halaman. Mereka memilih hidup ditempat lain dan mengunci masa lalu yang kelam dengan berdiam dan mengucilkan diri. Hidup dalam kemiskinan ekonomi dan disingkirkan masyarakat. Mengalami penderitaan fisik, menanggung rasa malu dan perasaan tak berharga hingga akhir hidupnya.
Kaisar Hirohito merupakan pemberi restu sistem Jugun Ianfu ini diterapkan di seluruh Asia Pasifik. Para pelaksana di lapangan adalah para petinggi militer yang memberi komando perang. Maka saat ini pihak yang harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan ini adalah pemerintah Jepang.
Pemerintah Jepang masa kini tidak mengakui keterlibatannya dalam praktek perbudakan seksual di masa perang Asia Pasifik. Pemerintah Jepang berdalih Jugun Ianfu dikelola dan dioperasikan oleh pihak swasta. Pemerintah Jepang menolak meminta maaf secara resmi kepada para Jugun Ianfu. Kendatipun demikian Juli 1995 Perdana Menteri Tomiichi Murayama pernah menyiratkan permintaan maaf secara pribadi, tetapi tidak mewakili negara Jepang. Tahun 1993 Yohei Kono mewakili sekretaris kabinet Jepang memberikan pernyataan empatinya kepada korban Jugun Ianfu. Namun pada Maret 2007 Perdana Menteri Shinzo Abe mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dengan menyanggah keterlibatan militer Jepang dalam praktek sistem perbudakan seksual.
Ada puluhan, bahkan ratusan perempuan korban penjajahan Jepang yang disebut Jugun Ianfu di Indonesia yang sampai sekarang nasibnya tidak jelas. Mereka tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal, mereka mendapatkan hak uang kesejahteraan dari Jepang. Uang kesejahateraan yang tadinya mau diberikan kepada Jugun Ianfu, diambil alih pemerintah melalui Departeman Sosial. Alasannya untuk melakukan pengelolaan agar nantinya bisa untuk membela dan membantu korban Jugun Ianfu. Tapi konyol, bantuan tersebut tidak pernah sampai ke tangan korban Jugun Ianfu. Penyelewengan ini justru sangat membuat prihatin kehidupan para mantan Jugun Ianfu, beban berat penderitaan masa lalunya ternyata hanya menjadi sebuah kenangan yang bagi bangsa Indonesia saat ini mungkin tak ada nilainya, padahal jika kita dapat belajar dari kehidupan mereka seharusnya merekalah yang patut kita ke depankan karena merekalah pahlawan-pahlawan bangsa kita sesungguhnya yang mempunyai peran yang vital bagi Indonesia, meskipun dengan cara yang menyakitkan bagi mereka.
Seperti apa yang disampaikan oleh Sastrawan, Pramoedya Ananta Toer, yang berbunyi “kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang akan menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu… surat kepada kalian ini juga semacam protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun yang lewat”
Semoga nasib para mantan Jugun Ianfu akan semakin membaik meski dukungan dari negara hanya buaian semata.